Indonesia merupakan Empat syuhada berangkat pada suatu malam
Gerimis air mata tertahan di keesokan telinga kami lekapkan ketanah kuburan dan simaklah itu sedu sedan.
Mereka anak muda pengembara tiada sendir i
mengukir reformasi karena jemu deformasi
dengarkan saban hari langkah-langkah sahabatmu beribu menderu-deru
kartu mahasiwa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
mestinya kalian menjadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu
taoi malaikat telah mencatat Indeks Prestasi kalian di trisakti bahkan diseluruh negri
karea kalian telah berani mengukir alphabet pertama dari gelombang ini ini dengan darah dan altileri sendiri.
Merah putih yang setengah tiang ini
merunduk dibawah garang matahari
(Taufik Ismail “12 mei 1998)
IZINKAN KAMI MENATA RUMAH KAMI SENDIRI
Indonesia merupakan bangsa yang besar , sumber daya alam melimpah, beragam corak dan budaya yang tergabung dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Semuanya merupakan anugrah yang maha kuasa yang seharusnya mampu menjadikan kita negri yang dihormati di bumi. Namun kegagalan merencanakan arah kebijakan bangsa menyebabkan Indonesia jatuh kedalam jurang kebangkrutan
Hari ini kita hanya bisa menyaksiakan semangat nasionalisme hanya ada dipanggung “reot” HUT RI sementara sebagian dari bangsa ini terus menggerus pasir dan menjualnya kepada Negara tetangga, menggadaikan asset Negara kepada swasta, mengekspor TKI, lalu menninggalkan setumpuk hutang untuk anak cucu dan tanpa malu menyimpan kekayaan hasil merampok negri sendiri di Bank asing.
Sementara generasi muda hanya menjadi penonton setia menyaksikan pendahulunya mengoyak, menguras dan mencabik-cabik negri yang dicintainya. Tanpa bermaksud menggurui kami generasi muda meminta izin untuk menata rumah kami sendiri,agar senantiasa rapih dan bersih , dan kamipun nyaman tinggal didalamnya.
Mari Merubah cara kita menyelesaikan Persoalan
Alam demokrasi memberikan kebebasan bagi siapapun untuk bersuara, sehingga tiada hari tanpa demonstrasi. Secara perlahan tapi pasti sikap ini mulai dianggap primitive oleh sebagian besar masyarakat, yang akibatnya sangat fatal yaitu para demonstrans dianggap sebagai penghambat kemajuan dan pembangunan. Sikap masyarakat yang seperti ini tidak bisa kita salahkan sepenuhnya, karena pemuda hanya mampu berperan pada awal perubahan, dan selanjutnya perubahan itu dibiarkan mengalir seperti bola liar. Sementara pemuda hanya menyalurkan aspirasinya dengan cara-cara bersifat demonstrative. Tapi tidak menemukan jalan lain yang efektif dan efisien dalam memperjuangkan nilai-nilai luhur.
Tantangan Besar jangan disikapi dengan solusi primitive
Orang Indonesia menjadi emosi saat kapal-kapal perang dan jet tempur kepolisian diraja Malaysia berlayar dan mengudara disekitar Blok Ambalat, lalu sekonyong-konyong semua orang mendaftar menjadi relawan. Kita juga menjadi sangat pelupa ketika mendukung resolusi DK-PBB yang menjatuhkan sanksi terhadap Iran terhadap pengayaan uranium negri itu. Padahal trgambar dikepala kita btentang perlakuan yang sama terhadap irak,afganistan. Sementara membiarkan Israel, India , korut untuk melakukan hal yang sama.
Sikap kita yang reaksioner dan cenderung ikut arus merupakan sebuah ketidak matangan dalam berfikir dan bertindak dalam menyikapi sebuah persoalan. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan kita serta ketidak mau-an kita untuk belajar. Sehingga sampai hari ini pun IMF dan Negara Adidaya terus membayang-bayangi kita.
“Mari Menjadi Bangsa yang Efektif“
Bagaimana sebuah bangsa yang efektif?
Read More......
